Photo by Daniele La Rosa Messina on Unsplash
Gue tau banget rasanya frustrasi setengah mati. Lo udah cape-cape utak-atik Magisk, install Play Integrity Fork, setting Shamiko sampe begadang, cek Play Integrity API hasilnya STRONG PASS—harusnya aman kan? Eh begitu buka aplikasi BCA Mobile, Livin’ Mandiri, atau BRImo, tiba-tiba muncul notifikasi “Root Device Detected” atau “Device tidak aman, silakan gunakan perangkat lain”. Parah banget. Udah berasa jago ngoprek Android, tapi tetep aja kalah sama sistem deteksi bank yang nyebelin. Tenang bos, lo nggak sendirian. Masalah ini dialami ribuan pengguna Android rooted di 2025, dan gue bakal kasih solusi komprehensif yang bener-bener work berdasarkan pengalaman community dan riset mendalam.
Memahami Perbedaan Play Integrity vs Deteksi Root Native Banking App
Ini yang sering bikin bingung. Banyak yang ngira kalau udah pass Play Integrity API dengan status STRONG, otomatis semua aplikasi aman termasuk banking app. Kenyataannya? Totally different. Play Integrity itu sistem verifikasi dari Google buat memastikan device lo genuine, bootloader locked (atau berhasil dispoofing), dan nggak ada tampering berbahaya. Ada tiga level: BASIC (paling lemah), DEVICE (menengah), dan STRONG (paling ketat). Kalau lo berhasil dapet STRONG INTEGRITY PASS pakai kombinasi Play Integrity Fork plus Tricky Store, artinya lo udah berhasil nipu Google Play Services—congrats.
Tapi ini dia twist-nya. Banking app di Indonesia maupun global nggak cuma bergantung pada Play Integrity Google. Mereka punya sistem deteksi root SENDIRI yang lebih agresif dan spesifik. Bank-bank kayak BCA, Mandiri, BRI, bahkan e-wallet kayak GoPay dan Dana punya SDK khusus yang langsung scan file system lo. Mereka cari jejak binary root kayak “su”, “magisk”, “busybox” di direktori sistem. Bahkan ada yang cek SELinux status, package signature, bootloader unlock status via fastboot properties, sampe hook detection di level native code. Jadi meskipun Google bilang device lo “aman”, banking app tetep bisa ngedeteksi kalau lo rooted lewat metode deteksi proprietary mereka. Makanya banyak yang bingung—kok STRONG INTEGRITY pass tapi tetep kena blokir? Ya karena dua sistem ini jalan terpisah.
Banking app juga sering pakai third-party security SDK kayak SafetyNet attestation custom, RootBeer library, atau bahkan machine learning detection yang belajar dari behavior app lo. Mereka bisa deteksi kalau ada Xposed/LSPosed framework yang hook method mereka, atau kalau ada Magisk Hide/Shamiko yang aktif tapi konfigurasinya salah. Intinya, fight lo bukan cuma lawan Google—tapi juga lawan security team masing-masing bank yang terus update deteksi mereka. Dan itu kenapa solusinya nggak bisa satu-size-fits-all.
Penyebab Umum Banking App Masih Detect Root Meski Strong Integrity PASS
Traces Binary Root Masih Tertinggal
Ini penyebab paling sering dan sering dilupain orang. Waktu lo install Magisk atau pernah pindah antar method rooting (misal dari SuperSU ke Magisk), sisa-sisa binary root masih nongkrong di sistem lo. File kayak /system/xbin/su, /sbin/.magisk/, /system/bin/su, atau symbolic link ke busybox itu jadi red flag besar buat banking app. Bahkan kalau Magisk lo udah di-hide atau rename jadi nama random, traces di file system bisa tetep ketahuan kalau banking app scan deep enough.
Banking app punya whitelist path yang mereka scan otomatis saat pertama kali dibuka. Kalau mereka nemu file executable dengan nama atau permission mencurigakan, langsung trigger root detection. Yang bikin ribet, kadang file-file ini nggak muncul kalau lo cek pakai file manager biasa—harus pakai root explorer atau ADB shell buat liat hidden files. Gue pernah denger kasus orang udah uninstall Magisk totally, tapi sisa config file di /data/adb/ tetep bikin banking app curiga. Crazy kan?.
Solusinya lo harus bersih-bersih manual. Cek direktori /system/xbin/, /sbin/, /system/bin/, dan /data/adb/ pakai terminal emulator atau ADB. Hapus semua binary atau folder yang relate sama rooting tools. Tapi hati-hati—jangan sampe lo hapus system files penting yang bisa bikin bootloop. Backup dulu sebelum ngelakuin deep cleaning kayak gini.
Module Magisk yang Konflik atau Ketahuan
Magisk module itu blessing sekaligus curse. Lo bisa modifikasi sistem tanpa edit partisi langsung, tapi beberapa module justru bikin signature unik yang gampang dideteksi banking app. Module kayak LSPosed, Xposed framework, font changer, theme engine, atau bahkan audio mod bisa trigger detection karena mereka hook ke system services atau Google Play Services. Banking app punya library buat cek apakah ada framework yang hook method Java mereka—dan kalau ketemu, langsung dianggap compromised device.
Yang lebih parah lagi, beberapa module bisa interfere dengan Play Integrity sendiri. Misalnya module yang modify build.prop secara aggressive atau spoofing device props pakai cara kuno. Ini bikin konflik sama Play Integrity Fork yang udah lo setup, jadinya malah bikin detection makin sensitif. Gue pernah ngalamin sendiri—habis install module Dolby Atmos, tiba-tiba banking app langsung reject. Begitu uninstall module-nya, balik normal lagi.
Best practice-nya: minimal module is the best. Cuma install module yang bener-bener lo butuhin buat daily use. Kalau ada module yang nggak essential, mending dimatikan atau uninstall—especially module yang modify framework atau hook GMS. Cek juga compatibility list dari Shamiko atau PIF, karena ada beberapa module yang officially incompatible sama bypass method terbaru.
Shamiko/Hide Config Belum Optimal
Shamiko itu Magisk module yang jadi successor dari Magisk Hide, fungsinya nyembunyiin jejak root dari app tertentu via whitelist system. Tapi banyak yang salah konfigurasi. Lo harus whitelist SEMUA komponen dari banking app—nggak cuma main app-nya doang. Banking app modern punya multiple components: main activity, background service, content provider, broadcast receiver, bahkan Google Play Services components yang dipake buat attestation. Kalau salah satu aja nggak di-whitelist Shamiko, tetep bisa bocor dan kena deteksi.
Masalah lain: Shamiko belum di-enable properly. Setelah install Shamiko module via Magisk, lo harus manually aktifkan di Magisk Settings > Configure DenyList, terus tambahkan banking app lo. Banyak yang lupa step ini dan bingung kenapa nggak work. Plus, Shamiko butuh Zygisk ON—kalau Zygisk lo masih off, Shamiko nggak bakal jalan sama sekali.
Update Shamiko juga penting banget. Versi lama kadang nggak compatible sama Android versi terbaru atau security patch level terkini. Di 2025 sekarang, minimal lo harus pakai Shamiko versi 0.7.x ke atas buat support Android 14-15 dengan optimal. Kalau masih pakai versi jadul dari tahun 2023, jangan heran kalau banking app tetep ngedeteksi. Developer terus update method hiding-nya ngikutin perubahan detection technique dari app-app besar.
Custom ROM dengan Signature AOSP Testkey
Ini masalah yang sering dialami pengguna custom ROM kayak LineageOS, Pixel Experience, atau AOSP-based lainnya. ROM-ROM ini biasanya ditandatangani pakai “testkey” generic dari AOSP, bukan private key resmi dari manufacturer. Banking app bisa detect ROM signature via Package Manager API, dan kalau ketemu testkey signature, langsung dianggap insecure. Google sendiri sebenarnya nggak terlalu masalah sama ini selama lo bisa spoof fingerprint dengan benar. Tapi banking app? They don’t care—mereka liat testkey = custom ROM = rooted = reject.
Meskipun lo udah spoofing fingerprint jadi Pixel 8 Pro atau device flagship lain pakai Play Integrity Fork, signature check ini jalan independent. Banking app bisa cross-reference antara reported device model (yang lo spoof) sama actual ROM signature, dan kalau nggak match, red flag. Ini yang bikin pengguna custom ROM + rooted double struggling—mereka harus bypass dua layer detection sekaligus.
Solusinya agak tricky. Lo bisa coba pakai module kayak “ROM Signature Bypass” atau custom patch yang modify signature reporting ke banking app. Tapi ini hit-or-miss tergantung banking app-nya. Alternatif yang lebih reliable: pakai ROM yang udah signed properly kayak Evolution X Official atau Paranoid Android yang punya private signing key. Atau, pertimbangkan balik ke stock ROM kalau banking app emang critical banget buat lo—nggak semua battle worth fighting.
Bootloader Unlocked Masih Terdeteksi
Last but not least: bootloader status. Ini yang paling susah diakalin. Buat rooting Android modern, lo HARUS unlock bootloader dulu—itu syarat mutlak. Tapi beberapa banking app bisa langsung query bootloader status via hardware-level property atau fastboot variables yang nggak bisa dispoofing pakai software biasa. Meskipun Play Integrity lo STRONG PASS (yang technically artinya Google ngeliat bootloader lo “locked”), banking app tetep bisa cek sendiri via native library mereka.
Banking app high-security kayak beberapa bank enterprise atau government-backed financial app di Indonesia punya detection paling ketat di sini. Mereka nggak percaya sama attestation Google—they check directly. Dan sayangnya, nggak ada cara reliable buat spoof bootloader status secara hardware-level tanpa re-lock bootloader (yang artinya lo harus unroot).
Ini jadi bottleneck terbesar community rooting di 2025. Meskipun semua bypass method lain berhasil, kalau banking app check bootloader dan lo unlocked, game over. Beberapa device high-end kayak Samsung dengan Knox atau Xiaomi dengan Anti-Rollback Protection makin susah di-bypass. Cuma ada partial workaround via kernel-level patching atau custom keybox injection, tapi success rate-nya rendah dan risky.
Solusi Teknis Step-by-Step Atasi Masalah Root Detection
Update & Konfigurasi Ulang Modul Play Integrity Fork
First thing first: pastikan lo pakai Play Integrity Fork (PIF) versi terbaru dari developer osm0sis. PIF ini fork dari module Play Integrity Fix yang udah discontinued, dan terus di-maintain aktif sampe 2025 sekarang. Download dari repo GitHub official: github.com/osm0sis/PlayIntegrityFork. Jangan download dari source random karena bisa aja udah dimodifikasi atau outdated.
Setelah install PIF, lo harus setup file custom.pif.json di direktori /data/adb/pif.json. File ini berisi fingerprint device yang lo mau spoof—dan ini critical banget. JANGAN pakai fingerprint public yang banyak dipake orang kayak Pixel 8 Pro Beta atau Samsung Galaxy S24 Ultra. Google tracking fingerprint yang terlalu sering dipake, dan bisa mass-ban devices yang pake fingerprint sama dalam waktu singkat. Cari fingerprint private dari device dump yang nggak populer—bisa dari Xiaomi mid-range, Oppo, atau Vivo yang jarang orang pake buat bypass.
Di dalam PIF settings (bisa diakses via terminal atau PIF Manager app), aktifkan Advanced Settings: enable spoofBuild, spoofProps, dan spoofProvider. Pastikan juga api_level dan security_patch yang lo set match sama Tricky Store config kalau lo pakai (nanti gue jelasin). Reboot device setelah semua setting beres, tunggu beberapa menit biar system stabilize, baru cek Play Integrity API. Kalau masih belum STRONG, tweak lagi fingerprint-nya atau coba device model lain.
Install & Setup Tricky Store untuk Strong Integrity
Tricky Store itu game-changer buat dapetin STRONG integrity. Ini Magisk module yang inject custom keybox ke hardware attestation path, basically nipu Google Play Services kalau device lo punya hardware-backed key genuine. Download Tricky Store versi official—ada beberapa fork jadi pastiin lo ambil yang actively maintained. Install main module-nya dulu via Magisk Manager, terus install addon kalau ada.
Bagian tricky (pun intended): lo butuh file keybox.xml yang unrevoked. Keybox ini basically hardware key unik dari device asli yang belum di-revoke sama Google. Dapetin keybox legitimate itu susah—biasanya dibagiin di forum private atau grup Telegram closed. NEVER beli keybox dari seller random di e-commerce karena high chance udah revoked atau fake. Setelah dapet keybox, inject via Tricky Store settings, pilih file keybox.xml lo, dan apply.
Satu hal PENTING: kalau lo udah pakai keybox hardware via Tricky Store, lo HARUS disable spoofProvider di Play Integrity Fork. Dua-duanya jalan bareng bisa conflict dan bikin attestation gagal. Tricky Store handle hardware attestation, PIF handle build props spoofing—bagi tugas dengan jelas. Reboot, tunggu 10-15 menit, baru test pake YASNAC app atau Play Integrity Checker. Kalau sukses, lo bakal liat MEETS_STRONG_INTEGRITY dan MEETS_DEVICE_INTEGRITY both TRUE.
Optimalkan Shamiko untuk Bypass Root Detection
Setelah Play Integrity lo strong, next step: setup Shamiko biar banking app nggak detect root. Download Shamiko versi latest dari GitHub LSPosed official repo. Install via Magisk Manager. Habis install, buka Magisk > Settings, scroll ke bawah sampe nemu opsi “Enable Zygisk” dan “Configure DenyList”—keduanya harus ON.
Masuk ke DenyList configuration, search banking app lo. Jangan cuma centang main app-nya—expand dropdown-nya dan centang SEMUA sub-components. Misal buat BCA Mobile, centang com.bca, tapi juga centang semua services kayak com.bca:background, com.bca:remote, dll. Begitu juga buat Google Play Services kalau banking app lo heavy integrate sama GMS. Lebih banyak yang di-whitelist, lebih baik.
Shamiko juga punya whitelist mode. Pastikan mode-nya di set ke “Whitelist” (default), bukan “Blacklist”. Di whitelist mode, cuma app yang lo masukin DenyList yang bakal di-hide dari root—app lain tetep bisa detect (berguna buat app yang emang butuh root). Setelah semua config beres, reboot. Test banking app lo, tunggu beberapa detik saat first launch karena Shamiko butuh init time. Kalau masih detect, coba add Google Services Framework dan Play Store juga ke DenyList—kadang banking app cek via service Google, bukan direct.
Bersihkan Traces Root Secara Manual
Ini langkah yang tedious tapi necessary. Buka terminal emulator atau connect via ADB shell. Ketik su buat dapet root access (obviously lo masih rooted kan). Cek direktori berikut satu-satu:
ls -la /system/xbin/
ls -la /sbin/
ls -la /system/bin/
ls -la /data/adb/
Cari file atau folder dengan nama mencurigakan: su, magisk, busybox, .magisk, ksu, dll. Hapus pakai command rm -rf [nama_file]. Tapi WARNING: jangan hapus sembarangan kalau lo nggak yakin—backup dulu atau tanya di forum. Salah hapus bisa bikin system nggak stabil atau bootloop.
Selain itu, hide Magisk app lo. Buka Magisk Manager > Settings > Hide the Magisk app. Lo bakal diminta rename jadi nama random kayak “Settings” atau “System UI” dengan package name acak. Ini biar banking app nggak detect package com.topjohnwu.magisk di installed apps list lo. Setelah rename, icon dan nama app bakal berubah—tapi fungsi tetep sama.
Matikan juga module yang nggak perlu, especially yang hook system-level atau GMS. Module kayak LSPosed, Xposed, Riru, atau EdXposed itu high-profile target buat banking detection. Kalau lo nggak bener-bener butuh hook app lain, mending disable dulu buat testing. Bisa di-enable lagi nanti kalau banking app udah work.
Gunakan Zygisk Detach atau Universal SafetyNet Fix Mod
Kalau semua cara di atas masih belum work, coba tambahin Zygisk Detach module. Ini module yang isolate specific app dari Zygisk detection, jadi meskipun Zygisk ON globally, app yang lo detach bakal liat seolah-olah Zygisk OFF. Download dari GitHub, install via Magisk, terus add banking app lo ke detach list. Reboot dan test lagi.
Alternatif lain: Universal SafetyNet Fix (USNF) atau MOD version-nya. Ini module lama yang sebenarnya udah obsolete karena Google deprecate SafetyNet API, tapi beberapa banking app masih pakai SafetyNet legacy check. USNF MOD bisa jadi fallback kalau PIF nggak work di device lo. Tapi jangan install USNF bareng PIF—pilih salah satu, karena conflict.
Factory Reset Google Play Services & Play Store
Ini cara yang sering overlooked tapi surprisingly effective. Kadang Google Play Services nyimpen attestation result lama yang failed, dan nge-cache terus meskipun lo udah fix semua. Cara reset: buka Settings > Apps > Google Play Services > Storage > Clear Cache dan Clear Data. Lakukan hal yang sama buat Play Store dan Google Services Framework.
Setelah clear data, reboot device. Tunggu beberapa menit biar GMS re-initialize. Jangan langsung cek Play Integrity—tunggu setidaknya 30 menit sampe 1 jam. Bahkan lebih baik kalau lo tunggu 24-72 jam buat Google server-side re-certify device lo. Ini bukan mitos—Google emang punya server-side cache yang butuh waktu buat refresh. Banyak yang report STRONG integrity baru muncul setelah waiting period ini.
Selama waiting period, JANGAN spam Play Integrity Checker berkali-kali. Setiap request lo catat sama Google, dan kalau terlalu frequent, device lo bisa di-flag sebagai suspicious dan malah bikin attestation permanent fail. Chill aja, sabar, cek sekali sehari aja.
Coba Alternatif: KernelSU atau APatch
Kalau Magisk bener-bener nggak work di setup lo, pertimbangkan switch ke rooting method lain. KernelSU itu root method yang jalan di kernel space, bukan user space kayak Magisk. Ini bikin detection lebih susah karena trace-nya lebih minimal. Install KernelSU butuh custom kernel yang udah integrated KSU module—cek XDA forum buat device lo ada kernel support apa nggak.
Pakai KernelSU combo sama Zygisk Next dan ReZygisk kadang lebih “bersih” dari perspective banking app. KernelSU punya module ecosystem sendiri yang lebih strict—nggak semua Magisk module compatible, jadi otomatis lo install less modules = less detection risk. Tapi learning curve-nya lebih steep, dan community support-nya belum seluas Magisk.
APatch itu alternatif lain yang lebih baru, based on kernel patching juga. Still experimental di 2025, tapi beberapa early adopter report success rate tinggi buat bypass banking detection. Kalau lo tipe yang suka bleeding-edge tech dan nggak takut troubleshooting, bisa dicoba. Tapi backup dulu—always backup before flash anything kernel-related.
Tips Tambahan & Best Practice
Jangan Spam Play Integrity Checker. Gue serius soal ini. Google tracking berapa kali lo request attestation. Kalau dalam sehari lo check 20-30 kali (gue tau lo excited pengen liat STRONG pass), Google algorithms bisa flag device lo sebagai bot atau tampering attempt. Limit check lo maksimal 3-5 kali sehari. Pakai alternatif buat cek certification: buka Play Store > Settings > About > scroll ke bawah, lo bakal liat “Play Protect certification”. Kalau certified, artinya attestation lo kemungkinan besar pass.
Pakai Fingerprint Private, Bukan Public. Pixel 8 Pro Beta fingerprint itu populer banget di community—dan Google tau. Mereka tracking device model dan fingerprint yang dilaporkan jutaan devices dengan exact same config. Ini red flag besar. Cari fingerprint yang nggak mainstream. Lo bisa generate sendiri pakai tool kayak gen_pif_custom.sh atau ambil dari device dump Xiaomi/Oppo jadul yang nggak banyak dipake orang. Unique fingerprint = lower chance of mass detection.
Update Modul Secara Berkala. Google update Play Integrity detection method hampir tiap bulan. Developer module kayak PIF, Shamiko, Tricky Store juga update ngikutin. Kalau lo pakai module versi 3 bulan lalu, bisa aja udah outdated dan nggak effective lagi. Join grup Telegram atau thread XDA buat device lo, biasanya ada announcement kalau ada update critical. Check GitHub repo official juga rutin.
Hindari Module yang Modify System Berlebihan. Font changer, bootanimation replacer, SystemUI tuner, theme engine—semua ini modify framework atau system files. Banking app bisa detect modification via checksum comparison atau behavior analysis. Kalau lo install 15 module buat customization, jangan heran kalau detection makin sensitif. Prioritize functionality over aesthetics kalau banking app penting buat lo. Lo bisa uninstall module cosmetic dulu, test banking app work atau nggak, baru install lagi kalau udah aman.
Kalau Semua Cara Gagal: Alternatif Solusi
Okay, gue harus realistis di sini. Nggak semua battle bisa dimenang. Kalau lo udah nyoba semua step di atas—PIF updated, Tricky Store with legit keybox, Shamiko optimized, cleanup manual, waiting period 72 jam—dan banking app MASIH detect root, mungkin lo harus consider plan B.
Pakai HP kedua khusus banking. Ini solusi paling pragmatis. Beli Android murah second (1-2 juta-an) yang stock, nggak di-root, khusus buat banking apps dan e-wallet. HP utama lo tetep rooted buat daily driver, HP satunya clean buat financial transactions. Emang ribet bawa dua HP, tapi ini guarantee 100% work tanpa drama.
Akses banking via browser. Beberapa bank Indonesia kayak BCA, Mandiri, BRI sekarang udah punya web app yang cukup lengkap. Lo bisa akses via Chrome atau browser lain tanpa install app native. Fiturnya mungkin nggak selengkap mobile app, tapi buat transaksi basic kayak transfer, cek saldo, bayar tagihan—biasanya cukup. Plus, web app nggak bisa detect root device lo (obviously, karena jalan di browser sandbox).
Hubungi CS bank. Ini jarang yang tau, tapi beberapa kasus root detection itu false positive dari server side. Lo bisa telpon atau chat CS bank lo, jelasin situasi (nggak usah bilang lo rooted sih, bilang aja “device saya terdeteksi tidak aman padahal asli dan aman”), minta mereka reset flag di account lo. Success rate-nya kecil, tapi worth a try—literally cuma makan waktu 10-15 menit.
Pertimbangan unroot TOTAL. Last resort. Kalau banking app bener-bener critical buat kerjaan atau financial management lo sehari-hari, dan semua bypass gagal, mungkin lo harus unroot. Flash stock ROM, re-lock bootloader, balik ke full factory condition. Ini painful, gue tau—lo kehilangan semua customization, root access, module favorite. Tapi kadang trade-off itu necessary. Lo bisa evaluate: apakah benefit rooting > benefit akses seamless ke banking app? Jawabannya beda-beda tiap orang.
Penutup: Sabar dan Tetap Eksperimen
Intinya begini: STRONG integrity pass dari Google Play itu achievement besar, tapi bukan jaminan lolos semua banking app detection. Banking app punya layer security tambahan yang independent, dan lo harus handle itu dengan cleanup traces, config optimal module, dan—paling penting—patience. Nggak ada solusi instant atau one-click fix buat masalah kompleks kayak gini.
Community Android rooting di 2025 masih hidup dan aktif banget. Developer kayak osm0sis, LSPosed team, dan contributor lain terus fight melawan detection baru dari Google dan app developer. Lo nggak sendirian dalam struggle ini. Join forum XDA, grup Telegram lokal Indonesia, atau Discord server rooting—banyak yang sharing experience, custom config, bahkan private fingerprint atau keybox yang work.
Jangan nyerah setelah satu-dua attempt gagal. Troubleshooting root detection itu trial-and-error by nature. Kombinasi yang work di device temen lo belum tentu work di device lo, karena beda ROM, beda kernel, beda security patch. Tetep eksperimen, tetep belajar, dan share pengalaman lo juga buat bantu yang lain.
Kalau lo berhasil solve masalah lo pakai salah satu cara di artikel ini, atau malah nemu trik lain yang work, share di komen atau forum. Who knows, solusi lo bisa bantu ribuan orang lain yang stuck di situasi sama. Dan kalau masih bingung atau butuh help spesifik buat device lo, drop pertanyaan—community always ready to help. Keep rooting, keep learning, dan jangan biarkan banking app detection ngalahin semangat oprek lo. You got this, bos.
Referensi
GitHub osm0sis PlayIntegrityFork – https://github.com/osm0sis/PlayIntegrityFork
XDA Forums Play Integrity Guide – https://xdaforums.com/t/detailed-guide-play-integrity-fix-use-banking-apps-on-rooted-android.4739042/
Spandiv Aplikasi Perbankan Terdeteksi Root – https://spandiv.xyz/aplikasi-perbankan-terdeteksi-root/
Reddit Magisk Banking Apps Guide – https://www.reddit.com/r/Magisk/comments/1apepfh/article_guide_solving_bank_apps_google_wallet_and/
Evotekno Cara Mengatasi HP Terdeteksi Root – https://www.evotekno.com/tutorial/cara-mengatasi-hp-terdeteksi-root-oleh-aplikasi-bank-android
XDA Forums Strong Integrity Fix Guide – https://xdaforums.com/t/updated-11-25-2025-guide-get-strong-integrity-fix-banking-apps-revolut-google-wallet-android-16-working.4693021/
Reddit Magisk Root Detection Help – https://www.reddit.com/r/Magisk/comments/1lc0r5g/help_banking_apps_are_still_detecting_root/